.
Dalam
analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus mengikuti prosedur
kerja yang khas. Zat yang diselidiki harus disiapkan atau diubah dalam bentuk
suatu larutan. Untuk zat padat kita harus memilih pelarut yang cocok. Ion-ion
pada golongangolongan diendapkan satu per satu, endapan dipisahkan dari larutan
dengan cara disaring atau diputar dengan centrifuga. Endapan dicuci untuk
membebaskan dari larutan pokok atau filtrat dan tiap-tiap logam yang mungkin
akan dipisahkan (Cokrosarjiwanto,1977:14).
Kation-kation
golongan I adalah kation-kation yang akan mengendap bila ditambahkan dengan
asam klorida(HCl). Yaitu Ag⁺, Pb²⁺, dan Hg²⁺ yang akan mengendap sebagai campuran AgCl, Hg
Cl , dan
PbCl
.
Pengendapan ion-ion golongan I harus pada temperatur kamar atau lebih rendah
karena PbCl
terlalu
mudah larut dalam air panas. Juga harus dijaga agar asam klorida tidak terlalu
banyak ditambahkan. Dalam larutan HCl pekat, AgCl dan PbCl
melarut, karena Ag⁺ dan Pb²⁺ membentuk kompleksi dapat
larut(Keenan,1984:20).
Kation
golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan
hidrogen sulfide dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah
Merkurium (II), Tembaga, Bismut, Kadnium, Arsenik (II), Arsenik (V), Stibium
(III), Stibium (V), Timah (II), Timah (III), dan Timah (IV). Keempat ion yang
pertama merupakan sub golongan 2A dan keenam yang terakhir sub golongan 2B.
Sementara sulfida dari kation dalam golongan 2A tak dapat larut dalam amonium
polisulfida. Sulfida dari kation dalam golongan 2B justru dapat larut. Kation
golongan III tidak bereaksi dengan asam klorida encer ataupun dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk endapan
dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniak. Kation-kation
golongan ini adalah Cobalt (II), Nikel (II), Besi (II), Besi (III), Aluminium,
Zink, dan Mangan (II). Kation golongan IV tidak bereaksi dengan reagensia
golongan I, II, dan III. Kation-kation ini membentuk endapan dengan amonium
karbonat dengan adanya amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam.
Kationkation golongan ini adalah Kalsium, Strontium, dan Barium. Kation-kation
golongan V merupakan kation-kation yang umum tidak bereaksi dengan reagensia
golongan sebulumnya. Yang termasuk anggota golongan ini adalah ion-ion
Magnesium, Natrium, Kalium, Amonium, Litium, dan Hidrogen(Vogel,1985:203-204).
C.
AlatdanBahan
|
Alat
|
Bahan
|
||
|
Tabung Reaksi
|
AgNO3 0,1 M
|
Na2S 0,1 M
|
BaCl2 0,1M
|
|
Rak Tabung
|
HCl 0,1 N
|
HgCl2 0,1 M
|
HCl pekat
|
|
Kaca Arloji
|
NH4OH
|
K4[Fe(CN)6] 0,1 M
|
CaCl2 0,1 M
|
|
Kawat Nikrom
|
NaOH 0,1 M
|
FeSO4 0,1 M
|
NaCl 0,1 M
|
|
Kaca Kobalt
|
Pb(NO3)2 0,1 M
|
Formalin
|
KCl 0,1 M
|
|
|
KI 0,1 M
|
FeCl3 0,1 M
|
MgCl2 0,1 M
|
|
|
Hg2(NO3)2 0,1 M
|
NH4SCN 0,1 M
|
Titan yellow
|
|
|
CuSO4 0,1 M
|
ZnSO4 0,1 M
|
|
E.
Hasil
a. Analisis Kation Golongan 1 (Ag+, Pb2+,
Hg+ )
1.
Ag+ dari sampel AgNO3
2.
Pb2+ dari sampel Pb(NO3)2
b. Analisis Kation Golongan 2 ( Cu2+,
Hg2+, Bi3+ )
1.
Cu+ dari sampel CuSO4
2. Hg2+
dari sampel HgCl2
3. Bi3+
dari sampel Bi(NO3)3
c. Analisis Kation Golongan 3 ( Fe2+, Fe3+,
Zn2+ )
1. Fe2+
dari sampel FeSO4
2. Fe3+
dari sampel FeCl3
3. Zn2+
dari sampel ZnSO4
d. Analisis Kation Golongan 4 ( Ba2+, Ca2+
)
1. Ba2+
dari sampel BaCl2
e. Analisis Kation Golongan 5 ( Na+, K+,
Mg2+ )
1. Na+ dari sampel NaCl
2. K+
dari sampel KCL
3. Mg2+ dari
sampel MgCl2
F.
Pembahasan
Analisis
kation merupakan pendekatan yang sistematis. Umumnya dapat dilakukan dengan 2
cara yaitu pemisahan dan identifikasi. Pemisahan dilakukan dengan cara
mengendapkan suatu kelompok kation dari larutannya. Kelompok kation yang
mengendap dipisahkan dari larutan dengan cara sentrifus dan menuangkan
filtratnya ke tabung uji yang lain. Larutan yang masih berisi sebagian besar
kation kemudian diendapkan kembali membentuk kelompok kation baru. Jika dalam
kelompok kation yang terendapkan masih berisi beberapa kation maka
kation-kation tersebut dipisahkan lagi menjadi kelompok kation yang lebih
kecil, sehingga pada akhirnya dapat dilakukan uji spesifik untuk satu kation.
Dari larutan sampel tersebut, kita bisa membuktikan setiap jenis kation yang
ada dalam larutan sampel.
Pada
percobaan pertama yaitu sampel AgNO3 dan Pb(NO3)2 yang
ditambahkan larutan HCl kemudian terbentuk endapan, endapan yang terbentuk
adalah endapan berwarna putih. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa
kation dalam endapan itu adalah Ag⁺ dan Pb²⁺. Kation dalam endapan tersebut merupakan
kation golongan I yang mengendap yang berwarna putih karena bereaksi dengan HCl.
Reaksi yang terjadi yaitu :
Endapan
PbCl2 akan larut dengan kenaikkan suhu. Kenaikkan suhu umumnya dapat
memperbesar kelarutan endapan kecuali pada beberapa endapan, seperti kalsium
sulfat, berlaku sebaliknya. Perbedaan kelarutan karena suhu ini dapat digunakan
sebagai dasar pemisahan kation. Oleh karena itu, PbCl2 dapat
dipisahkan dari kation yang lain dengan menambahkan H2O panas
kemudian mensentrifus dan memisahkannya dari larutan. Adanya filtrat Pb²⁺ dapat
diidentifikasi dengan penambahan K2CrO4 membentuk endapan
kuning atau dengan H2SO4 membentuk endapan yang berwarna
putih. Reaksi yang terjadi yaitu :
Pada
percobaan kedua yaitu filtrat B ditambahkan dengan larutan NaOH berlebih dan
terbentu Selanjutnya pada penambahan NH3
berlebih + HNO3, endapan MnO(OH)2 menjadi larut,
diakibatkan konsentrasi pereaksi yang berlebih.
Pada
percobaan ketiga yaitu filtrat C ditambahkan dengan NH3 dan HNO3
membentuk endapan putih, sehingga kemungkinan kation yang ada yaitu Al³⁺. Pada
penambahan NH3 terbentuk endapan Al(OH)3 berwarna putih.
Hidroksida aluminium ini bersifat amfoter sehingga dapat larut dalam NaOH. Jika
NaOH ditambahkan pada hidroksida aluminium, maka hidroksida selanjutnya dari
kation tersebut akan terbentuk. Tetapi aluminium yang bersifat amfoter akan
larut membentuk kompleks Al(OH)4⁻. Pada
penambahan HNO3 dalam filtrat C terdapat kation Al³⁺ dan
apabila ditambahkan NH3 terbentuk endapan putih Al(OH)3.
G.
Daftar Pustaka
Cokrosarjiwanto. 1997. Kimia Analitik Kualitatif I.
Yogyakarta : UNY Press.
Keenan, dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta :
Erlangga.
Masterlon, W.L. 1990. Analisa Kualitatif. http
://www.Chemistry.co.id.Pdf.
Didownload pada tanggal 15 November 2010, pukul 09.30 WITA.
Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro
dan Semi Mikro. Jakarta: PT. Kalman Pusaka.
H.
Lampiran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar