Katalisator mempercepat reaksi kimia, mengalami perubahan selama reaksi, tetapi
berubah kembali kepada keadaan semula setelah reaksi-reaksi selesai. Enzim
merupakan biokatalisator yang bekerja spesifik. Aktivitas katalis yang dimiliki
enzim merupakan alat ukur yang selektif dan sensitif terhadap aktivitas enzim.
Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat, pH, suhu, dan indikator.
Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat atau produk yang terbentuk.
Faktor yang mempengaruhi pengukuran aktivitas enzim antara lain konsentrasi
enzim dan substrat, suhu, pH, dan indikator. Aktivitas enzim meningkat
bersamaan dengan peningkatan suhu, laju berbagai proses metabolisme akan naik
sampai batasan suhu maksimal. Prinsip biologis utama adalah homeostatis, yaitu
keadaan dalam tubuh yang selalu mempertahankan keadaan normalnya. Perubahan
relatif kecil saja dapat mempengaruhi aktivitas banyak enzim. Adanya inhibitor
non kompetitif irreversibel dan antiseptik dapat menurunkan aktivitas enzim.
Kecepatan reaksi mula-mula meningkat dengan menaiknya suhu, hal ini disebabkan
oleh peningkatan energi kinetik pada molekul-molekul yang bereaksi. Akan tetapi
pada akhirnya energi kinetik enzim melampaui rintangan energi untuk memutuskan
ikatan hidrogen dan hidrofobik yang lemah, yang mempertahankan struktur
sekunder-tersiernya. Pada suhu ini terjadi denaturasi enzim menunjukkan suhu
optimal. Sebagian besar enzim suhu optimalnya berada diatas suhu dimana enzim
itu berada.
Aktivitas enzim maksimal diperoleh pada pH optimal, untuk saliva (enzim
amilase) pHnya 7. Bentuk kurva aktivitas pH ditentukan oleh denaturasi enzim
(pada pH tinggi atau rendah) dan penambahan status bermuatan pada enzim dan
atau substrat. Enzim dapat pula mengalami perubahan bentuk bila pH bervariasi.
Gugus yang bermuatan yang jauh dari daerah terikat substrat diperlukan untuk
mempertahankan struktur tersier-kuartener yang aktif. Dengan perubahan muatan
pada gugus ini maka protein dapat terbuka sehingga aktivitasnya berubah.
Kecepatan awal suatu reaksi merupakan kecepatan yang diukur sebelum terbentuk
produk yang cukup untuk memungkinkan suatu reaksi, kecepatan awal suatu reaksi
yang dikatalisis enzim harus sebanding dengan konsentrasi enzim. Untuk
menentukan kecepatan reaksi, sebenarnya pengaruh konsentrasi substratlah yang
sangat berarti. Namun, konsentrasi substrat yang menunjukkan kecepatan maksimal
aktivitas enzim akan mencerminkan jumlah enzim aktif yang ada.
Inhibitor non kompetitif irreversibel adalah suatu zat yang menghambat kerja enzim
dengan cara berikatan dengan enzim tetapi bukan pada active sidenya, karena
inhibitor tidak memiliki kesamaan dengan struktur substrat, maka peningkatan
konsentrasi substrat umumnya tidak menghilangkan inhibitor tersebut. Banyak
racun yang bekerja sebagai inhibitor non kompetitif irreversibel terhadap
aktivitas enzim, antara lain ion logam berat, iodosetamida, dan zat-zat
pengoksidatif.
Pengaruh ph
Kondisi pH dapat mempengaruhi aktivitas enzim melalui
pengubahan stuktur atau pengubahan muatan pada residu yang berfungsi dalam
pengikatan substrat atau katalis. Sebagai contoh, enzim bermuatan negatif
(Enz-) bereaksi dengan substrat bermuatan positif (SH+) :
Enz- + SH+ ®
EnzSH
Pada pH yang rendah, Enz- mengalami protonasi dan kehilangan muatan negatifnya
(enzim dinetralisir) :
Enz- + H+ ® EnzH
Sedangkan, pada pH yang tinggi, SH+ mengalami ionisasi dan kehilangan muatan
positifnya (substrat dinetralisir) :
SH+ ® S + H+
Karena (berdasarkan definisi) satu-satunya bentuk yang mengadakan interaksi
adalah SH+ dan Enz-, nilai pH yang ekstrim (tinggi ataupun rendah) akan
menurunkan kecepatan reaksi.
Pada kurva yang diperoleh melalui percobaan, dapat dilihat bahwa enzim amilase
saliva memiliki pH optimal pada pH 7, karena pada pH ini diperoleh aktivitas
enzim yang tinggi (kecepatan reaksi enzimatik tinggi). Umumnya, kecepatan
reaksi enzimatik meningkat hingga mencapai pH optimal dan menurun setelah pH
lebih besar dari pH optimal. Pada pH 1, 3 dan 5, aktivitas enzim masih ada,
tetapi kecil (ditunjukkan oleh kecepatan reaksi enzimatik yang kecil pula). Hal
ini disebabkan pada pH kurang dari 4, enzim amilase saliva menjadi tidak aktif.
Pada pH 9 dan 11, aktivitas enzim menurun karena telah terlewati pH optimal
dari enzim tersebut.
ktivitas enzim dipengaruhi oleh kadar enzim. Aktivitas enzim dan kadar enzim
memiliki hubungan perbandingan yang lurus. Hal ini berarti semakin besar kadar
enzim, semakin besar aktivitas enzim dan semakin cepat reaksi yang dikatalisis
enzim. Apabila kadar substrat tetap dan kadar enzim turun, maka kecepatan
rekasi yang dikatalisis enzim akan menurun karena enzim yang tersedia tidak
cukup banyak untuk bereaksi dengan substrat. Reaksi enzimatik yaitu:
k1 k2
Enz + S Enz-S Enz + P
Semakin banyak enzim yang berikatan dengan substrat, kecepatan reaksi
semakin meningkat dan semakin banyak kompleks enzim-substrat yang terbentuk.
Maka produk yang terbentuk pun semakin banyak.
Pada percobaan kali ini dibuat larutan enzim dengan berbagai macam konsentrasi
untuk dapat membandingkan kerja enzim pada berbagai konsentrasi. Kadar enzim
yang bervariasi dibuat dengan pengenceran dengan aquadest.
Pada hasil percobaan, aktivitas enzim tertinggi (kecepatan reaksi enzimatik
tertinggi) seharusnya diperoleh pada kadar enzim terbesar, yaitu saat saliva
tidak diencerkan. Hal ini disebabkan banyak enzim yang bereaksi dengan substrat
sehingga kecepatan reaksi tinggi dan produk banyak yang dihasilkan. Semakin
menurun kadar enzim, aktivitas enzim seharusnya semakin menurun.
Selanjutnya pada pengenceran 10x seharusnya diperoleh kecepatan reaksi
enzimatik yang lebih kecil daripada tanpa pengenceran. Hal ini disebabkan
jumlah enzim yang bereaksi dengan substrat berkurang sehingga aktivitas enzim
pun menurun. Begitupun pada pengenceran seterusnya, seharusnya diperoleh bahwa
semakin tinggi pengenceran (semakin encer), semakin menurun pula aktivitas
enzim (kecepatan reaksi menurun)
Akan tetapi, percobaan yang dilakukan praktikan tidak sesuai dengan hasil yang
seharusnya didapat. Terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga kecepatan reaksi
enzimatik tidak berbanding lurus dengan kadar enzim melainkan kecepatan enzim
bervariasi naik turun terhadap kadar enzim.
Penyimpangan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal:
- Kurang teliti dalam melakukan pengenceran
- Kesalahan waktu atau suhu saat pengeraman
- Saliva sebagai sumber enzim telah dipengaruhi oleh zat warna atau kandungan
dari permen karet yang digunakan untuk memicu pengeluaran saliva
Tidak ada komentar:
Posting Komentar