Jumat, 19 Juli 2013


TITRASI REDOKS
Dilaksanakan pada tanggal 05 Mei 2013, pukul 09.00 WIB 
A.    Tujuan percobaan        :
·         Menentukan kadar besi

B.     Tinjauan Pustaka
Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Dalam titrasi zat yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat dan disertai penambahan indikator larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar. Sedangkan indikator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi.
Reaksi oksidasi reduksi atau reaksi redoks adalah reaksi yang melibatkan penangkapan dan pelepasan electron.Dalam setiap reaksi redoks, jumlah electron yang dilepaskan oleh reduktor harus sama dengan jumlah electron yang ditangkap oleh oksidator.Ada dua cara untuk menyetarakan persamaan reaksi redoks yaitu metode bilangan oksidasi dan metode setengah reaksi (metode ion electron), hubungan reaksi redoks dan perubahan energy adalah sebagai berikut:
Persamaan elektrokimia  yang berguna dalam perhitungan potensial sel adalah persamaan Nernst, reaksi redoks dapat digunakan dalam analisis volumetric bila memenuhi syarat.
Titrasi redoks adalah titrasi suatu larutan standar  oksidator dengan suatu reduktor atau sebaliknya, dasarnya adalah reaksi oksidasi reduksi antara analit dengan titran. Reaksi oksidasi-reduksi (redoks) adalah reaksi pengikatan dan pelepasan elektron. Oksidasi adalah reaksi pelepasan electron sedangkan reaksi reduksi adalah penerimaan / penyerapan elektron oleh suatu zat kimia. Pelepasan dan penerimaan electron terjadi secara simultan artinya jika suatu senyawa kimia melepaskan electron berarti ada senyawa kimia lain yang menerima elektron. Reaksi redoks ditandai dengan perubahan bilangan oksidasi pada saat pereaksi berubah menjadi hasil reaksi atau pada oksidasi terjadi penambahan bilangan oksidasi sedangkan pada reduksi terjadi penurunan bilangan oksidasi.

C.     Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Buret
Asam oksalat 0,1N
Breaker glass
KMnO4
Erlenmeyer
H2SO4 2N
Gelas ukur
FeSO4 . 7H2O 2N
Pembakar spirtus
Indikator kanji
Kasa dan kaki tiga


D.    Cara Kerja
a. Pembutan larutan standar sekunder KMnO4 0,1N
3,3 gr KMnO4
            ditambahkan
100 ml aquadest
       
Dididihkan

b. Standarisasi larutan standar sekunder KMnO4 0,1N
10 ml asam oksalat 0,1N
            ditambahkan
10 ml H2SO4 2N
            dititrasi
3 tetes KMnO4
            dipanaskan
Mencapai suhu 70-800C
            dititrasi
Warna merah jambu
 

Dihitung konsentrasi sebenarnya

c. Penentuan kadar sampel
10 ml sampel
           ditambahkan
10 ml H2SO4 2N
           ditambahkan
10 ml aquades
           ditambahkan
1 ml indikator kanji
 dititrasi
KMnO
          dihitung
Kadar sampelnya

E.     Hasil
No
Vol sampel
V KMnO4
v akhir
v awal
v pakai
1
30
31,7
30
1,7
2
30
33,1
31,7
1,4
3
30
34,8
33,1
1,7
V rata-rata
1,6


F.      Pembahasan
Prinsip yang mendasari titrasi permanganometri adalah titrasi redoks (reduksi oksidasi) antara kalium permanganat sebagai larutan baku sekunder dengan asam oksalat sebagai larutan baku primer dalam standarisasi larutan permanganat.
Pembuatan larutan KMnO4 yakni dengan melarutkan sejumlah tertentu KMnO4 dalam akuades yang sebelumnya telah dipanaskan hingga mendidih, hal tersebut bertujuan agar zat-zat organik yang terkandung dalam akuades dapat hilang dengan cara pemanasan. Zat-zat organik tersebut harus dihilangkan sebab dapat bereaksi dengan permanganat dikarenakan sifat dari ion permanganat yang mudah tereduksi oleh zat-zat organik tersebut membentuk mangan dioksida (MnO2) padatan yang berwarna coklat, dimana MnO2 tersebut dapat mereduksi kembali ion permanganat sehingga lama-kelamaan kadar dari KMnO4 akan berkurang dengan berkala. Kalium permanganat pun sangat mudah bereaksi dengan cahaya sehingga terbentuk MnO2 juga, reaksinya :
MnO4- + 4H+ + 2e- → MnO2(s) + 2H2O
            Sifat-sifat inilah yang hanya menjadikan KMnO4 hanya dapat berlaku sebagai larutan standar baku sekunder(Day & Underwood, 2002).
Sedangkan sifat lain dari Kalium permanganat antara lain :
·         Tidak stabil
·         Mudah terurai oleh sinar matahari membentuk MnO2
Karena sifat KMnO4 yang mudah teruarai oleh cahaya/sinar matahari tersebut, maka wadah tempat penyimpanan larutan KMnO4 harus berwarna gelap. Jika kita menggunakan gelas kimia sebagai wadah, maka gelas kimia harus dibungkus dengan plastik hitam atau dengan lap. Serta menggunakan buret berwarna coklat pada saat titrasi. Langkah pertama yang dilakukan pada titrasi penentuan kadar oksalat dengan cara titrasi permanganometri adalah pemipetan asam oksalat. Pipet yang digunakan adalah pipet volume, dimana pipet tersebut memiliki ketelitian yang cukup tinggi. Sebelum digunakan pipet harus dibilas terlebih dahulu beberapa kali dengan akuades setelah itu baru di bilas dengan larutan asam oksalat. Hal ini bertujuan untuk mengkondisikan pipet tersebut dengan larutan asam oksalat, dan juga agar sisa-sisa akuades yang tersisa dalam pipet tersebut dapat hilang. Sehingga pengenceran akibat adanya sisa-sisa akuades yang ada dalam pipet tersebut dapat terhindari. Setelah dipipet, larutan asam oksalat dipindahkan ke dalam labu erlenmeyer dengan cara ditempelkan kebagian mulut labu erlenmeyer tersebut. Posisi pipet harus vertikal dengan posisi labu erlenmeyer dimiringkan 450 dari posisi vertikal pipet volum.
Setelah semua larutan asam oksalat masuk ke dalam labu erlenmeyer, leher bagian dalam labu erlenmeyer dibilas dengan akuades, hal tersebut bertujuan agar semua sisa asam oksalat masuk ke dalam labu erlenmeyer.
Selanjutnya dilakukan penambahan H2SO4 2N ke dalam labu erlenmeyer tersebut. Penambahan tersebut berfungsi sebagai pengkondisian saat dilakukannya titrasi redoks antara Kalium permanganat dengan asam oksalat. Dalam suasana asam reaksi redoks antara ion permanganat dengan ion oksalat akan sesuai dengan yang diharapkan yaitu terbentuknya ion Mn2+ (ion mangan) yang tidak berwarna, reaksinya :
MnO4- + 8H+ + 5e- → Mn2+ + 4H2O          E0 = 1,51 volt
(Harjadi, 1990)
Berbeda dengan reaksi antara ion permanganat dengan ion oksalat tersebut terjadi dalam suasana netral atau basa, maka produk yang dihasilkan tidak akan terbentuk Mn2+ akan tetapi produk lain. Hal ini dapat dilihat dari reaksi di bawah ini :
·         Dalam larutan Netral, pH 4 – 10
MnO4- + 4H+ + 3e- ↔ MnO2(s) + 2H2O                                   E0 = 1,70 volt
·         Dalam larutan Basa, OH- 1N atau lebih
MnO4- + e- ↔ MnO42-                                                             E0 = 0,56 volt
(Harjadi, 1990)
Dalam suasana netral atau sedikit basa produk yang terbentuk adalah MnO2, suatu endapan coklat yang dimana jika terbentuk maka MnO2 tersebut dapat mereduksi Kalium Permanganat sehingga dalam titrasi didapat dua reduktor, yaitu asam okslata dan endapan MnO2, sehingga kesalahan dapat terjadi dimana konsumsi ion permanganat akan lebih banyak. Selain itu adanya endapan MnO2 pun dapat mengganggu pendeteksian titik akhir, dimana jika yang terbentuk Mn2+ maka larutan akan tidak berwarna sehingga titik akhir mudah dilihat yaitu ditandai dengan terbentuknya warna merah muda, berbeda dengan adanya MnO2, pendeteksian akan sulit dilakukan karena terganggunya pendeteksian dengan adanya endapan yang berwarna coklat. Sedangkan dalam suasana basa produk yang dihasilkan adalah ion MnO42-.
Setelah asam sulfat dimasukan, dilakukan pemanasan. Hal ini bertujuan agar reaksi redoks antara asam oksalat dengan kalium permanganat beraksi dengan cepar dan kesetimbangan bergeser kearah kanan (ke arah terbentuknya produk).
Sebelum titrasi dilakukan, buret yang akan digunakan harus dibilas terlebih dahulu dengan akuades baru dibilas dengan menggunakan larutan kalium permanganat. Hal ini bertujuan untuk mengkondisikan buret dengan peniter yaitu kalium permanganat. Serta bertujuan unutk menghilangkan sisa-sisa akuades yang masih menempel pada bagian dalam buret. Sehingga tidak terjadi pengenceran yang tidak disengaja dalam buret oleh larutan kalium permanganat, sehingga pada proses titrasi dilakukan larutan peniter adalah larutan yang benar-benar hasil pengenceran yanga dilakukan sebelumnya.
Setelah dibilas, buret lalu  diisi dengan larutan kalium permanganat  ± 0,05 N lalu ditanda bataskan sampai angka 0 mL. Penanda batasan ini harus dilakukan dengan posisi mata sejajar dengan garis 0 mL pada buret.
Dalam penanda batasan buret atau pembacaan buret dalam titrasi metode permanganometri, miniskus yang digunakan adalah miniskus atas, hal ini dikarenakan larutan kalium permanganat yang berwarna ungu, sehingga penanda batasan maupun pembacaan buret dilakukan mudah dilakukan dengan melihat miniskus atas. Berbeda dengan larutan yang tidak berwarna penenda batasan atau pembacaan buret harus dilakukan dengan melihat miniskus bawah buret, dimana hal tersebut sulit dilakukan dan kesalahanpembacaan sering terjadi.
Proses titrasi tidak dilakukan dengan terlalu cepat atau terlalu pelan, karena akan terjadi kesalahan-kesalahan, diantaranya :
Jika titrasi delakukan terlalu cepat, dapat menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+ (kesalahan positif). Sehingga akan terjadi kesalahan dalam pengamatan.
2MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+
(Sumarna, 2004)
Jika titrasi dilakukan terlalu pelan maka ion oksalat akan membentuk peroksida yang terurai menjadi air (kesalahan negatif), sehingga ion oksalat akan hilang dan menjadi berkurang dari yang seharusnya, sehingga ion konsumsi ion permanganat akan berkurang maka terjadilah kesalahan titrasi.
H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + CO2
             H2O2 ↔ H2O + O2
(Sumarna, 2004)
Titik akhir terjadi dengan terbentuknya warna merah muda yang dihasilkan oleh kelebihan 1 tetes peniter kalium permanganat. Sehingga pada titrasi ini tidak digunakan indikator untuk melihat perubahan warna, maka kalium permanganat disebut juga sebagai auto indikator.

G.    Daftar Pustaka
Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT. Gramedia. Jakarta.
Harvey, David. 2000. Modern Analytical Chemistry. 1st ed. The McGraw-Hill Companies, Inc. North America.
Sumarna, A. 2009. Pengantar Kimia Analisis II (Titrimetri). Pusdiklat. Bogor.
Underwood, A. L & R. A Day . Jr. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi ke ke enam. Diterjemahkan oleh A. H Pudjaatmaka. Erlangga. Jakarta.

H.    Lampiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar