TITRASI REDOKS
Dilaksanakan pada tanggal 05 Mei 2013,
pukul 09.00 WIB
A.
Tujuan percobaan :
·
Menentukan kadar besi
B.
Tinjauan Pustaka
Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk
menentukan kadar suatu larutan. Dalam titrasi zat yang akan ditentukan
konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinya diketahui dengan
tepat dan disertai penambahan indikator larutan yang telah diketahui
konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar. Sedangkan indikator
adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang
dikenal dengan istilah titik akhir titrasi.
Reaksi oksidasi reduksi atau
reaksi redoks adalah reaksi yang melibatkan penangkapan dan pelepasan
electron.Dalam setiap reaksi redoks, jumlah electron yang dilepaskan oleh
reduktor harus sama dengan jumlah electron yang ditangkap oleh oksidator.Ada
dua cara untuk menyetarakan persamaan reaksi redoks yaitu metode bilangan
oksidasi dan metode setengah reaksi (metode ion electron), hubungan reaksi
redoks dan perubahan energy adalah sebagai berikut:
Persamaan elektrokimia yang
berguna dalam perhitungan potensial sel adalah persamaan Nernst, reaksi redoks dapat
digunakan dalam analisis volumetric bila memenuhi syarat.
Titrasi redoks adalah titrasi
suatu larutan standar oksidator dengan suatu reduktor atau sebaliknya,
dasarnya adalah reaksi oksidasi reduksi antara analit dengan titran. Reaksi oksidasi-reduksi (redoks) adalah reaksi
pengikatan dan pelepasan elektron. Oksidasi adalah reaksi pelepasan electron sedangkan reaksi reduksi adalah penerimaan
/ penyerapan elektron oleh suatu zat kimia. Pelepasan dan penerimaan electron terjadi secara simultan artinya jika suatu senyawa kimia melepaskan electron berarti ada senyawa kimia lain
yang menerima elektron. Reaksi redoks ditandai dengan perubahan bilangan oksidasi pada saat pereaksi berubah menjadi hasil reaksi atau pada oksidasi terjadi penambahan bilangan oksidasi sedangkan pada reduksi terjadi penurunan bilangan oksidasi.
C.
Alat dan Bahan
|
Alat
|
Bahan
|
|
Buret
|
Asam oksalat 0,1N
|
|
Breaker glass
|
KMnO4
|
|
Erlenmeyer
|
H2SO4 2N
|
|
Gelas ukur
|
FeSO4 . 7H2O 2N
|
|
Pembakar spirtus
|
Indikator kanji
|
|
Kasa dan kaki tiga
|
|
D.
Cara
Kerja
a. Pembutan
larutan standar sekunder KMnO4 0,1N
3,3 gr KMnO4
100 ml aquadest
Dididihkan
b. Standarisasi larutan standar sekunder KMnO4
0,1N
10 ml asam
oksalat 0,1N
10 ml H2SO4
2N
3 tetes KMnO4
Mencapai suhu
70-800C
Warna merah jambu
Dihitung
konsentrasi sebenarnya
c. Penentuan
kadar sampel
ditambahkan
10 ml H2SO4
2N
10 ml aquades
1 ml indikator
kanji
KMnO4
Kadar sampelnya
E.
Hasil
|
No
|
Vol sampel
|
V KMnO4
|
||
|
v akhir
|
v awal
|
v pakai
|
||
|
1
|
30
|
31,7
|
30
|
1,7
|
|
2
|
30
|
33,1
|
31,7
|
1,4
|
|
3
|
30
|
34,8
|
33,1
|
1,7
|
|
V rata-rata
|
1,6
|
|||
F.
Pembahasan
Prinsip yang mendasari titrasi
permanganometri adalah titrasi redoks (reduksi oksidasi) antara kalium
permanganat sebagai larutan baku sekunder dengan asam oksalat sebagai larutan
baku primer dalam standarisasi larutan permanganat.
Pembuatan larutan KMnO4
yakni dengan melarutkan sejumlah tertentu KMnO4 dalam akuades yang
sebelumnya telah dipanaskan hingga mendidih, hal tersebut bertujuan agar
zat-zat organik yang terkandung dalam akuades dapat hilang dengan cara
pemanasan. Zat-zat organik tersebut harus dihilangkan sebab dapat bereaksi
dengan permanganat dikarenakan sifat dari ion permanganat yang mudah tereduksi
oleh zat-zat organik tersebut membentuk mangan dioksida (MnO2)
padatan yang berwarna coklat, dimana MnO2 tersebut dapat mereduksi
kembali ion permanganat sehingga lama-kelamaan kadar dari KMnO4 akan
berkurang dengan berkala. Kalium permanganat pun sangat mudah bereaksi dengan
cahaya sehingga terbentuk MnO2 juga, reaksinya :
MnO4- + 4H+
+ 2e- → MnO2(s) + 2H2O
Sifat-sifat inilah yang hanya menjadikan KMnO4 hanya dapat berlaku
sebagai larutan standar baku sekunder(Day & Underwood, 2002).
Sedangkan sifat lain dari Kalium permanganat
antara lain :
·
Tidak stabil
·
Mudah terurai oleh sinar matahari membentuk MnO2
Karena sifat KMnO4
yang mudah teruarai oleh cahaya/sinar matahari tersebut, maka wadah tempat
penyimpanan larutan KMnO4 harus berwarna gelap. Jika kita
menggunakan gelas kimia sebagai wadah, maka gelas kimia harus dibungkus dengan
plastik hitam atau dengan lap. Serta menggunakan buret berwarna coklat pada
saat titrasi. Langkah pertama yang dilakukan pada titrasi penentuan kadar
oksalat dengan cara titrasi permanganometri adalah pemipetan asam oksalat.
Pipet yang digunakan adalah pipet volume, dimana pipet tersebut memiliki
ketelitian yang cukup tinggi. Sebelum digunakan pipet harus dibilas terlebih
dahulu beberapa kali dengan akuades setelah itu baru di bilas dengan larutan
asam oksalat. Hal ini bertujuan untuk mengkondisikan pipet tersebut dengan
larutan asam oksalat, dan juga agar sisa-sisa akuades yang tersisa dalam pipet
tersebut dapat hilang. Sehingga pengenceran akibat adanya sisa-sisa akuades
yang ada dalam pipet tersebut dapat terhindari. Setelah dipipet, larutan asam
oksalat dipindahkan ke dalam labu erlenmeyer dengan cara ditempelkan kebagian
mulut labu erlenmeyer tersebut. Posisi pipet harus vertikal dengan posisi labu
erlenmeyer dimiringkan 450 dari posisi vertikal pipet volum.
Setelah semua larutan asam
oksalat masuk ke dalam labu erlenmeyer, leher bagian dalam labu erlenmeyer
dibilas dengan akuades, hal tersebut bertujuan agar semua sisa asam oksalat
masuk ke dalam labu erlenmeyer.
Selanjutnya dilakukan penambahan
H2SO4 2N ke dalam labu erlenmeyer tersebut. Penambahan
tersebut berfungsi sebagai pengkondisian saat dilakukannya titrasi redoks
antara Kalium permanganat dengan asam oksalat. Dalam suasana asam reaksi redoks
antara ion permanganat dengan ion oksalat akan sesuai dengan yang diharapkan
yaitu terbentuknya ion Mn2+ (ion mangan) yang tidak berwarna,
reaksinya :
MnO4- + 8H+
+ 5e- → Mn2+ + 4H2O
E0 = 1,51 volt
(Harjadi, 1990)
Berbeda dengan reaksi antara ion
permanganat dengan ion oksalat tersebut terjadi dalam suasana netral atau basa,
maka produk yang dihasilkan tidak akan terbentuk Mn2+ akan tetapi
produk lain. Hal ini dapat dilihat dari reaksi di bawah ini :
·
Dalam larutan Netral, pH 4 – 10
MnO4- + 4H+
+ 3e- ↔ MnO2(s) + 2H2O
E0 = 1,70 volt
·
Dalam larutan Basa, OH- 1N atau lebih
MnO4- + e-
↔ MnO42-
E0 = 0,56 volt
(Harjadi, 1990)
Dalam suasana netral atau sedikit
basa produk yang terbentuk adalah MnO2, suatu endapan coklat yang
dimana jika terbentuk maka MnO2 tersebut dapat mereduksi Kalium
Permanganat sehingga dalam titrasi didapat dua reduktor, yaitu asam okslata dan
endapan MnO2, sehingga kesalahan dapat terjadi dimana konsumsi ion
permanganat akan lebih banyak. Selain itu adanya endapan MnO2 pun
dapat mengganggu pendeteksian titik akhir, dimana jika yang terbentuk Mn2+
maka larutan akan tidak berwarna sehingga titik akhir mudah dilihat yaitu
ditandai dengan terbentuknya warna merah muda, berbeda dengan adanya MnO2,
pendeteksian akan sulit dilakukan karena terganggunya pendeteksian dengan
adanya endapan yang berwarna coklat. Sedangkan dalam suasana basa produk yang
dihasilkan adalah ion MnO42-.
Setelah asam sulfat dimasukan,
dilakukan pemanasan. Hal ini bertujuan agar reaksi redoks antara asam oksalat
dengan kalium permanganat beraksi dengan cepar dan kesetimbangan bergeser
kearah kanan (ke arah terbentuknya produk).
Sebelum titrasi dilakukan, buret
yang akan digunakan harus dibilas terlebih dahulu dengan akuades baru dibilas
dengan menggunakan larutan kalium permanganat. Hal ini bertujuan untuk
mengkondisikan buret dengan peniter yaitu kalium permanganat. Serta bertujuan
unutk menghilangkan sisa-sisa akuades yang masih menempel pada bagian dalam
buret. Sehingga tidak terjadi pengenceran yang tidak disengaja dalam buret oleh
larutan kalium permanganat, sehingga pada proses titrasi dilakukan larutan
peniter adalah larutan yang benar-benar hasil pengenceran yanga dilakukan
sebelumnya.
Setelah dibilas, buret lalu
diisi dengan larutan kalium permanganat ± 0,05 N lalu ditanda bataskan
sampai angka 0 mL. Penanda batasan ini harus dilakukan dengan posisi mata
sejajar dengan garis 0 mL pada buret.
Dalam penanda batasan buret atau
pembacaan buret dalam titrasi metode permanganometri, miniskus yang digunakan
adalah miniskus atas, hal ini dikarenakan larutan kalium permanganat yang
berwarna ungu, sehingga penanda batasan maupun pembacaan buret dilakukan mudah
dilakukan dengan melihat miniskus atas. Berbeda dengan larutan yang tidak
berwarna penenda batasan atau pembacaan buret harus dilakukan dengan melihat
miniskus bawah buret, dimana hal tersebut sulit dilakukan dan
kesalahanpembacaan sering terjadi.
Proses titrasi tidak dilakukan
dengan terlalu cepat atau terlalu pelan, karena akan terjadi
kesalahan-kesalahan, diantaranya :
Jika titrasi delakukan terlalu
cepat, dapat menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+
(kesalahan positif). Sehingga akan terjadi kesalahan dalam pengamatan.
2MnO4- +
3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+
(Sumarna, 2004)
Jika titrasi dilakukan terlalu
pelan maka ion oksalat akan membentuk peroksida yang terurai menjadi air
(kesalahan negatif), sehingga ion oksalat akan hilang dan menjadi berkurang
dari yang seharusnya, sehingga ion konsumsi ion permanganat akan berkurang maka
terjadilah kesalahan titrasi.
H2C2O4
+ O2 ↔ H2O2 + CO2
H2O2 ↔ H2O + O2
(Sumarna, 2004)
Titik akhir terjadi dengan
terbentuknya warna merah muda yang dihasilkan oleh kelebihan 1 tetes peniter
kalium permanganat. Sehingga pada titrasi ini tidak digunakan indikator untuk
melihat perubahan warna, maka kalium permanganat disebut juga sebagai auto indikator.
G.
Daftar Pustaka
Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia
Analitik Dasar. PT. Gramedia. Jakarta.
Harvey, David. 2000. Modern
Analytical Chemistry. 1st ed. The McGraw-Hill Companies, Inc. North
America.
Sumarna, A. 2009. Pengantar
Kimia Analisis II (Titrimetri). Pusdiklat. Bogor.
Underwood, A. L & R. A Day .
Jr. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi ke ke enam. Diterjemahkan
oleh A. H Pudjaatmaka. Erlangga. Jakarta.
H.
Lampiran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar