Rabu, 17 Juli 2013

PERILAKU IKAN CUPANG BIOLOGI PRILAKU


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Analisis perilaku memerlukan pengamatan yang tajam dan kesabaran yang tinggi.Pergerakan-pergerakan harus dijelaskan, dikategorikan dan dipetakan sebelum fungsi perilaku tersebut dipastikan. Apa yang mungkin terlihat sebagai pergerakan yang acak, tidak berhubungan, mungkin sebenarnya cocok pada suatu pola yang didesain untuk membantu reproduksi, nutrisi, atau beberapa fungsi hidup penting lainnya untuk sintas. Bagi etolog-etolog profesional, analisis suatu perilaku hewan bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tetapi disini kita hanya melakukan sebagian kecil dari suatu perilaku kompleks yang diamati oleh para etolpog tersebut.

Dalam kegiatan praktikum ini kita mempelajari suatu contoh perilaku agresif, suata perilaku yang banyak ditemukan pada hewan. Sejumlah besar invertebrata mempunyai kebiasaan ”berkelahi” yang berkembang dengan baik, dan perilaku berkelahi semua jenis vertebrata mulai dari ikan sampai manusia sudah kita kenal dengan baik. Berkelahi mempunyai beberapa fungsi antara lain: memberikan jarak antar individu pada suatu kondisi, di mana makanan atau sumber daya lainnya terbatas, menjamin keberhasilan hasil reproduksi (reproduksi umumnya sukses pada individu, terkuat dan sifat ini akan diturunkan pada generasi selanjutnya) jauh lebih sering dibandingkan pada individu-individu yang kurang kompetitif dalam populasi.

Perilaku agresif menuntun pada kondisi hierarki sosial dan teritori atau kedua-duanya. Praktikum ini dirancang  untuk menunjukan hanya hierarki sosial, bagaimana dominasi suatu individu terhadap individu lainnya berkembang dengan cepat setelah terjadinya konflik pertama. Kita akan membagi perilaku mengancam (theat dispaly) dalam beberapa komponen, dan mengamati si pemenang serta si pecundang dalam perkelahian tersebut. Ikan cupang sebagai subjek pengamatan, seperti halnya pada kebanyakan hewan, tidak berkelahi sampai mati. Si pecundang akan menjauh setelah siripnya rusak, tetapi tidak sampai pada kerusakan yang serius.     

1.2  Tujuan praktikum
-           Mengamati tahapan-tahapan perilaku agonistik pada  ikan cupang
1.3   Landasan Teori
Cupang (Betta sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Ikan ini mempunyai bentuk dan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Di kalangan penggemar, ikan cupang umumnya terbagi atas tiga golongan, yaitu cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar. Ikan cupang adalah salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup (Collins,2005).
Cupang atau keluarga Betta merupakan golongan anabantoid, yaitu golongan ikan yang dapat bernafas dengan mengambil udara langsung dari atmosfer. Hal ini dimungkinkan karena ikan ini memiliki perangkat tambahan pada insangnya yang disebut labirin yang berfungsi sebagai paru-paru. Insangnya sendiri tidak berkembang dengan baik sehingga mereka tidak mampu mengambil oksigen dari air. Di alam, mereka kerap dijumpai pada genangan-genangan air dangkal berlumpur dengan kadar oksigen terlarut sangat rendah (Collins,2005).
Mereka juga sering dijumpai pada areal persawahan atau lokasi-lokasi lain yang mirip dengan keadaan seperti itu. Dalam pemeliharaan, dianjurkan agar udara diatas akuarium bersuhu kurang lebih sama dengan suhu air untuk menghindari ikan yang bersangkutan sakit. Keluarga cupang mempunyai bentuk morfologi tubuh yang khas. berbagai variasi bentuk bisa terjadi, bahkan pada beberapa varietas cupang hias morfologinya sering tampak berbeda cukup jauh dari morfologi dasarnya, terutama dalam hal tampilan sirip-siripnya.


Cupang Jantan dan Cupang Betina sangat mudah untuk dibedakan
Cupang Jantan
- Warna ikan cupang jantan sangat terang dan cerah
- Tubuhnya lebih besar, kecuali ikan ini masih anakan.
- Ekor dan siripnya lebih panjang
- Gerakannya sangat agresif, baik terhadap cupang jantan maupun cupang betina.
Cupang betina
- Cupang betina memiliki warna pudar atau tidak menarik
- Tubuhnya relatif lebih kecil dengan perut agak buncit
- Ekor dan siripnya pendek, meskipun ikan itu sudah dewasa
- Gerakannya relatif lebih lamban dibanding yang jantan
Perilaku agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau penampilan yang khas (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antarindividu dalam populasi atau antarpopulasi. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat). 

PopulasiUntuk mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan uji. Cupang adu (Betta splendens) merupakan jenis ikan laga; individu jantan dapat sangat agresiv terhadap jantan lainnya dalam sebuah arena bertarung. Dengan adanya akuarium sebagai media bertarung, maka diharapkan dapat dengan mudah diamati perilaku agonistik diantara ikan cupang jantan (Mustafa, 2008).
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Betta Sp.

Ikan cupang adalah salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup (Fauziah, 2011)
Gambar ikan cupang

 Pembahasan
Pada praktikum penelitian perilaku agonistik ini kami menggunakan ikan cupang hias dan adu jenis  Betta splendens.  Karena ikan cupang jantan dijadikan sebagai “ikan aduan” karena sifatnya yang gemar berkelahi apabila diletakkan dalam satu wadah yang sama. Ikan cupang merupakan jenis ikan hias yang mempunyai naluri berkelahi yang tinggi. Ikan cupang jantan lebih agresif daripada ikan cupang betina. Hal ini dikarenakan ikan cupang jantan lebih sering berkelahi dengan sesama jenisnya. Bagian tubuh yang biasanya diincar ikan cupang jantan adalah bagian sirip. Karakter tersebut muncul karena ikan cupang merupakan salah satu jenis spesies yang mempertahankan daerah kekuasaannya sampai mati. Tidak
Pada dasarnya ikan cupang melakukan kebiasaan yang sering ikan cupang lakukan misalnya:
  • Approach (Ap) : mendekat, berenang cepat kemudian berhenti di dekat bayangannya / ikan lain
  • Bite : menggigit lawan
  • Chase (Ch) : mengejar lawan yang melarikan diri
  • Frontal threat (FT) : mengancam dari depan dengan membuka operculum, dagu direndahkan dan melebarkan sirip dada saat berhadapan dengan lawan
  • Side Threat (ST) : mengancam dari pinggir dengan membuka operculum, dagu direndahkan kea rah lawan dan semua sirip dikembangkan
  • Mouth to mouth contact (MC) : Kontak mulut ke mulut yaitu dua individu akan saling mendorong, menarik, dan mencengkram dengan mulut
  • Flight (Fl) : melarikan diri
  • Tail flagging (TF) : mengibaskan ekor
  • Circle (Cl) : bergerak memutar arah setelah mendekati lawan
  • Explore (Ex) : menjelajah area tanpa arah yang jelas
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Perilaku agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau penampilan yang khas (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antarindividu dalam populasi atau antarpopulasi. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat). PopulasiUntuk mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan uji.



DAFTAR PUSTAKA
Cavalcante, 2012. Effects of Mercury Chloride (HgCl2) on Betta Splendens Aggressive Display. Universidade federal do para Brazil. The spanish journal of psychology 2012, Vol. 15, No. 1, 442-450

Mustafa, 2008. The Importance of Temperature, Individual Size and Habitat Arrangement on the Bubble Nest Construction of Siamese Fighting Fish (Betta splendens Regan, 1910). Fisheries Faculty, Fırat University. International Journal of Science & Technology Volume 3, No 1, 53-58, 2008

Collins,2005. SIAMESE FIGHTING FISH (BETTA SPLENDENS) SHOW SELF-CONTROL FOR ACCESS TO A MIRROR. University of Montana, Missoula, Montana. International Journal of Science & Technology Volume 33, No 11, 53-58, 2005

Verbeek. 2007. Differences in aggression between wild-type and domesticated
fighting fish are context dependent. Department of Biology, Faculty of Education and Culture, University of Miyazaki. ANIMAL BEHAVIOUR, 2007, 73, 75e83

Tidak ada komentar:

Posting Komentar