BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Analisis perilaku memerlukan
pengamatan yang tajam dan kesabaran yang tinggi.Pergerakan-pergerakan harus dijelaskan, dikategorikan dan dipetakan sebelum
fungsi perilaku tersebut dipastikan. Apa yang mungkin terlihat sebagai
pergerakan yang acak, tidak berhubungan, mungkin sebenarnya cocok pada suatu
pola yang didesain untuk membantu reproduksi, nutrisi, atau beberapa fungsi
hidup penting lainnya untuk sintas. Bagi etolog-etolog profesional, analisis
suatu perilaku hewan bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun,
tetapi disini kita hanya melakukan sebagian kecil dari suatu perilaku kompleks
yang diamati oleh para etolpog tersebut.
Dalam kegiatan
praktikum ini kita mempelajari suatu contoh perilaku agresif, suata perilaku
yang banyak ditemukan pada hewan. Sejumlah besar invertebrata mempunyai
kebiasaan ”berkelahi” yang berkembang dengan baik, dan perilaku berkelahi semua
jenis vertebrata mulai dari ikan sampai manusia sudah kita kenal dengan baik.
Berkelahi mempunyai beberapa fungsi antara lain: memberikan jarak antar
individu pada suatu kondisi, di mana makanan atau sumber daya lainnya terbatas,
menjamin keberhasilan hasil reproduksi (reproduksi umumnya sukses pada
individu, terkuat dan sifat ini akan diturunkan pada generasi selanjutnya) jauh
lebih sering dibandingkan pada individu-individu yang kurang kompetitif dalam
populasi.
Perilaku
agresif menuntun pada kondisi hierarki sosial dan teritori atau kedua-duanya.
Praktikum ini dirancang untuk menunjukan hanya hierarki sosial, bagaimana
dominasi suatu individu terhadap individu lainnya berkembang dengan cepat
setelah terjadinya konflik pertama. Kita akan membagi perilaku mengancam (theat
dispaly) dalam beberapa komponen, dan mengamati si pemenang serta si pecundang
dalam perkelahian tersebut. Ikan cupang sebagai subjek pengamatan, seperti
halnya pada kebanyakan hewan, tidak berkelahi sampai mati. Si pecundang akan
menjauh setelah siripnya rusak, tetapi tidak sampai pada kerusakan yang
serius.
1.2 Tujuan
praktikum
-
Mengamati
tahapan-tahapan perilaku agonistik
pada ikan cupang
1.3 Landasan Teori
Cupang (Betta
sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara di Asia
Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Ikan ini mempunyai
bentuk dan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan
wilayahnya. Di kalangan penggemar, ikan cupang umumnya terbagi atas tiga
golongan, yaitu cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar. Ikan cupang adalah
salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan
tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat
sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup (Collins,2005).
Cupang atau
keluarga Betta merupakan golongan anabantoid, yaitu golongan ikan yang dapat
bernafas dengan mengambil udara langsung dari atmosfer. Hal ini dimungkinkan
karena ikan ini memiliki perangkat tambahan pada insangnya yang disebut labirin
yang berfungsi sebagai paru-paru. Insangnya sendiri tidak berkembang dengan
baik sehingga mereka tidak mampu mengambil oksigen dari air. Di alam, mereka
kerap dijumpai pada genangan-genangan air dangkal berlumpur dengan kadar
oksigen terlarut sangat rendah (Collins,2005).
Mereka juga
sering dijumpai pada areal persawahan atau lokasi-lokasi lain yang mirip dengan
keadaan seperti itu. Dalam pemeliharaan, dianjurkan agar udara diatas akuarium
bersuhu kurang lebih sama dengan suhu air untuk menghindari ikan yang
bersangkutan sakit. Keluarga cupang mempunyai bentuk morfologi tubuh yang khas.
berbagai variasi bentuk bisa terjadi, bahkan pada beberapa varietas cupang hias
morfologinya sering tampak berbeda cukup jauh dari morfologi dasarnya, terutama
dalam hal tampilan sirip-siripnya.
Cupang Jantan dan Cupang Betina sangat mudah untuk
dibedakan
Cupang Jantan
- Warna ikan cupang jantan sangat terang dan cerah
- Tubuhnya lebih besar, kecuali ikan ini masih anakan.
- Ekor dan siripnya lebih panjang
- Gerakannya sangat agresif, baik terhadap cupang jantan maupun cupang betina.
- Warna ikan cupang jantan sangat terang dan cerah
- Tubuhnya lebih besar, kecuali ikan ini masih anakan.
- Ekor dan siripnya lebih panjang
- Gerakannya sangat agresif, baik terhadap cupang jantan maupun cupang betina.
Cupang betina
- Cupang betina memiliki warna pudar atau tidak menarik
- Tubuhnya relatif lebih kecil dengan perut agak buncit
- Ekor dan siripnya pendek, meskipun ikan itu sudah dewasa
- Gerakannya relatif lebih lamban dibanding yang jantan
- Cupang betina memiliki warna pudar atau tidak menarik
- Tubuhnya relatif lebih kecil dengan perut agak buncit
- Ekor dan siripnya pendek, meskipun ikan itu sudah dewasa
- Gerakannya relatif lebih lamban dibanding yang jantan
Perilaku
agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau
postur tubuh atau penampilan yang khas (display) yang
melibatkan mengancam (threat),
perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antarindividu
dalam populasi atau antarpopulasi. Invidu yang aggressive dan
mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang
kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat).
PopulasiUntuk
mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan
uji. Cupang adu (Betta splendens) merupakan jenis ikan laga; individu jantan
dapat sangat agresiv terhadap jantan lainnya dalam sebuah arena bertarung.
Dengan adanya akuarium sebagai media bertarung, maka diharapkan dapat dengan
mudah diamati perilaku agonistik diantara ikan cupang jantan (Mustafa, 2008).
|
Kerajaan:
|
|
|
Filum:
|
|
|
Kelas:
|
|
|
Ordo:
|
|
|
Famili:
|
|
|
Genus:
|
|
|
Spesies:
|
Betta
Sp.
|
Ikan
cupang adalah salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama
sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit
dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat
bertahan hidup (Fauziah, 2011)
Gambar
ikan cupang
Pada praktikum penelitian perilaku agonistik ini kami
menggunakan ikan cupang hias dan adu jenis Betta splendens. Karena
ikan cupang jantan dijadikan sebagai “ikan aduan” karena sifatnya yang gemar
berkelahi apabila diletakkan dalam satu wadah yang sama. Ikan cupang merupakan
jenis ikan hias yang mempunyai naluri berkelahi yang tinggi. Ikan cupang jantan
lebih agresif daripada ikan cupang betina. Hal ini dikarenakan ikan cupang
jantan lebih sering berkelahi dengan sesama jenisnya. Bagian tubuh yang
biasanya diincar ikan cupang jantan adalah bagian sirip. Karakter tersebut
muncul karena ikan cupang merupakan salah satu jenis spesies yang
mempertahankan daerah kekuasaannya sampai mati. Tidak
Hasil pengujian analisis menggunakan anova data diatas
tidak berbeda nyata dengan menggunakan subset 0,05, dan perlakuan yang paling
subordinat (kebiasaan yang jarang dilakukan) adalah habitual no 3 yaitu chase
(mengejar lawan yang melarikan diri). Untuk data yang super ordinat adalah
habitual no 8 yaitu tail flagging (menghibaskan ekornya) terlihat pada grafik. Pada
dasarnya ikan cupang merupakan ikan yang sangat agresif, begitu juga dengan
cupang jenis lainnya.
Pada dasarnya ikan cupang melakukan kebiasaan yang
sering ikan cupang lakukan misalnya:
- Approach (Ap) :
mendekat, berenang cepat kemudian berhenti di dekat bayangannya / ikan
lain
- Bite :
menggigit lawan
- Chase (Ch) :
mengejar lawan yang melarikan diri
- Frontal threat (FT) : mengancam dari depan dengan membuka operculum, dagu
direndahkan dan melebarkan sirip dada saat berhadapan dengan lawan
- Side Threat (ST) : mengancam dari pinggir dengan membuka operculum, dagu
direndahkan kea rah lawan dan semua sirip dikembangkan
- Mouth to mouth contact (MC) : Kontak mulut ke mulut yaitu dua individu akan saling
mendorong, menarik, dan mencengkram dengan mulut
- Flight (Fl) :
melarikan diri
- Tail flagging (TF) : mengibaskan ekor
- Circle (Cl) :
bergerak memutar arah setelah mendekati lawan
- Explore (Ex) :
menjelajah area tanpa arah yang jelas
BAB
V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Perilaku agonistik
merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh
atau penampilan yang khas (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antarindividu dalam
populasi atau antarpopulasi. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena
perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah
(submissive/ subordinat). PopulasiUntuk mengetahui
perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan uji.
DAFTAR PUSTAKA
Cavalcante, 2012. Effects of Mercury Chloride (HgCl2) on Betta Splendens Aggressive
Display. Universidade federal do para Brazil. The spanish journal of psychology
2012, Vol. 15, No. 1, 442-450
Mustafa,
2008. The Importance of
Temperature, Individual Size and Habitat Arrangement on the Bubble Nest
Construction of Siamese Fighting Fish (Betta splendens Regan, 1910). Fisheries
Faculty, Fırat University. International Journal of Science & Technology
Volume 3, No 1, 53-58, 2008
Collins,2005.
SIAMESE FIGHTING FISH (BETTA SPLENDENS) SHOW SELF-CONTROL FOR ACCESS TO A
MIRROR. University of Montana, Missoula, Montana. International Journal of
Science & Technology Volume 33, No 11, 53-58, 2005
Verbeek. 2007.
Differences in aggression between wild-type and domesticated
fighting fish
are context dependent. Department
of Biology, Faculty of Education and Culture, University of Miyazaki. ANIMAL
BEHAVIOUR, 2007, 73, 75e83
Tidak ada komentar:
Posting Komentar